Surat dari Rifda (Alumni Fapet IPB) untuk Mr. Presiden :
Respon saya utk speech Presiden di perayaan Dies Natalis IPB.
Assalamualaikum WW Pak Presiden Jokowi.
Saya Rifda Ammarina alumni IPB angkt 20. Alhamdulillah sejak 2005 memperjuangkan promosi dan edukasi pertanian Indonesia lewat Agrinex Expo dan saat ini sedang membangun usaha Pertanian dgn komoditas Rempah Di Maluku Utara dan Hortikultura di Pandeglang Banten.
Tadi jam 6 pagi dr kemang saya ke kebun saya dan skrg masih di jalan menuju Jakarta. Saya memahami mengapa tidak semua alumni IPB berkecimpung di sektor Pertanian, karena pemimpin Negeri ini terutama pemerintahan dalam kepemimpinan Bapak belum cukup berbuat sesuatu yg mendorong investasi di sektor Pertanian sehingga sektor Pertanian mampu memyerap semua tenaga2 alumni IPB dgn gaji yang layak.
Pak Jokowi, taukah Bapak betapa sulitnya mengakses lahan pertanian bagi kami, betapa sulitnya mendapat akses pembiayaan bank dgn agunan lahan pertanian non sawit, betapa sulitnya benih berkualitas dan pupuk dgn harga terjangkau dan betapa tidak pastinya harga jual hasil pertanian krn kebijakan import yg pemerintan Bapak lakukan. Pak, semua itu menjadi kendala untuk menarik lebih banyak pemain baru di sektor pertanian.
Pak Jokowi, taukah Bapak betapa sedikitnya alumni IPB di BUMN krm kalau banyak alumni IPB di bank BUMN maka mustinya mudah pembiayaan kebun buah dgn agunan lahan pertanian, shg bukan kebun besar saja spt sawit tapi juga kebun buah kecilpun bisa dibiayai. Kalau banyak alumni IPB di kementrian Kehutanan dan BPN mustinya mudah akses lahan pertanian bagi kami alumni tanpa harus membeli lahan yang makin tidak murah krm pemguasaan lahan oleh taipan yg lewati batas kewajaran akibat lalainya Pemerintah. Kalau saja banyak alumni IPB di Kementrian Perdagangan bisa jadi akan mudah import di hentikan utk menolong produk pertanian lokal di pasar Indonesia dan eksport. Dan bila banyak alumni IPB di Kementrian Perindustrian rasanya mudah akan hadirnya industri pengolahan di sentra2 produksi Pertanian sehingga harga saat panen tidak merugikan petani.
Pak Jokowi, saya inshaa Allah cukup yakin, kalau saja Bapak copot Menteri Pertanian dan gantikan dgn alumni IPB yg handal maka akan hadir kebijakan2 yg mendorong produktivitas pertanian dgn efisien juga sesuai kebutuhan alias tdk mubazir dan asal2an spt saat ini.
Oh ya Pak. Taukah Bapak berapa banyak BUMN dan berapa banyak alumni di level direktur BUMN? Bandingkan dgn jumlah alumni IPB? Hanya kurang dr 1% yg menjadi direksi BUMN. Jadi daripada Bapak pertanyakan kiprah dan output alumni IPB di Pertanian, mending Bapak ganti Mentan dg alumni IPB dan rubah kebijakan import, pembiayaan pertanian dan akses lahan pertanian.
Semoga pesan ini di teruskan ke pak Jokowi utk sebagai koreksi. Amin YRA
Salam.
Rifda Ammarina
Alumni IPB EO Agrinex Expo.
Rabu, 06 September 2017
Minggu, 03 September 2017
Pembersihan Etnik Rohingya
PEMBERSIHAN ETNIK (2/2)
GEOPOLITICAL TUG OF WAR
Sat, 10.26
By : Arifin Mufti
Sejumlah teman (pria dan wanita) ingin mengetahui lebih lanjut tentang Myanmar dan Rohingya (di wilayah Rakhine). Apa boleh buat, karena ditanya terus, maka disajikan secara ringkas – dengan gaya bahasa bebas - supaya mudah .
Tapi bacanya santai saja ya – jangan bawa perasaan – maklum, agak sensi.
Istilah “Tug Of War” dalam olah raga adalah lomba TARIK TAMBANG, atau adu kuat tarik tambang. Dalam geopolitik artinya adu kuat/pengaruh memperebutkan satu wilayah strategis biasanya antara Barat vs China di Asia.
Klasifikasinya, dibawah “proxy war”.
Kita mulai dengan Sidang Tertutup Dewan Keamanan PBB (UNSC) yang dihadiri 15 negara di New York, Rabu 30 Agustus 2017. Inggris, Matthew Rycroft, mengajukan usul mendiskusikan isu pembantaian ROHINGYA di Myanmar. China menolak dengan keras, dan sangat keberatan (AFP, 31/8).
Demikian juga bulan Juni lalu, ketika diusulkan investigasi adanya Pembersihan Etnik di Myanmar oleh tim PBB, China MENOLAK. Bulan Maret sebelumnya juga sama ditolak China. (The New York Times, The Washington Post, The Elevennews).
Tim PBB, bulan Juni, juga tidak bisa masuk Myanmar karena ditolak visanya oleh Pemerintah Myanmar. Pemerintah Myanmar didukung China sepenuhnya, sehingga berani menolak (The Eleven).
Menjadi menarik, ketika wakil dari Inggris berkata pada Sidang DK PBB: “ Kami bersama yang mendukung kepemimpinan Aung San Kyi masih respek sebagaimana sebelumnya” (AFP).
Ada banyak kepentingan sejumlah Negara-negara besar di Myanmar yang diwakili Korporasi dunia disana, keamanan investasi. Utamanya Inggris, Amerika, China, Korea Selatan, Uni Eropa dan sejumlah Negara Teluk.
Lalu apakah Pembersihan Etnik Rohingya hanyalah peristiwa insidentil saja?
Jawabnya, tidak.
Oktober 2015, dari dokumen yang bocor di Inggris – “International State Crime Initiative (ISCI) di Queen Mary University di London menyimpulkan bahwa Rohingya yang menduduki wilayah Rakhine State menghadapi ancaman proses genosida tahap akhir. Dokumen yang dimiliki pemerintah Inggris bersumber dari intelijen di Myanmar, memperlihatkan rencana yang menyangkut “pembersihan secara masal yang telah disiapkan oleh Pemerintah Myanmar Tingkatan Tertinggi. Diungkapkan oleh jurnalis Nafeez Ahmad PhD, spesialis “Investigative Report dari The Sydney Morning Herald dan The Age, media dunia di Australia. Dimuat juga di Majalah The Echologist dan Harian lokal di Timur Tengah.
Laporan tersebut meliputi rencana “perkosaan, pembantaian oleh masyarakat, penahanan atas kasus hukum, penyerobotan tanah, pembakaran rumah, isolasi oleh Pemerintahan, menyudutkan Rohingya Muslim dengan sentimen keagamaan (pemeluk Budha vs Muslim), pembakaran, menghabisinya atau mengusirnya. Dimulai dari hak pilihnya dihilangkan, job dan hak memiliki tanah dan diusir atau di eliminasi dengan tidak diberi identitas. Walaupun dalam sejarah, mereka umumnya sudah ada di Myanmar sejak abad ke-8 M.
Itu semua, salah satunya (selain sentimen perbedaan agama) karena wilayah Rakhine dan Sanghan menyimpan, merujuk laporan Departemen Perdagangan dan Investasi Inggris (UKTI), kandungan minyak senilai 3,2 juta barel dan cadangan LNG yang sangat besar – yang diketahui juga oleh KORPORASI Dunia dibidang Energi (Inggris, Amerika, UE, China, Korea Selatan dan sejumlah perusahaan energi Negara Teluk).
Penduduk disana harus pergi, karena akan digunakan sebagai jalur pipa minyak, industri energi dan “Deep Sea Port” akses ke Lautan Hindia.
Contoh saja, “parallel gas pipeline” sejak tahun 2014 telah mengalirkan 4 milyar meter kubik metana dari Myanmar dan Qatar ke China dari pelabuhan Kyaukpyu di Rakhine State (lokasi penduduk Rohingya).
Era Barack Obama, Aung San Suu Kyi dilih sebagai “proxy”, dibina dan didukung oleh Uni Eropa dan Amerika untuk melawan rezim militer dan membendung pengaruh Komunis China, mengamankan asset sejumlah Korporasi, reformasi ekonomi dan politik serta “proses demokratisasi” yang mengarah pada manfaat ekonomi, sejak tahun 2011.
Sehingga akhirnya berhasil, memenangkan Pemilu di tahun 2016, menumbangkan rezim militer – dipuji oleh UE sebagai pemilu demokratis, adil dan transparan , didukung media dunia (media korporat) bisa memenangkan rezim militer dan diangkat sebagai Pemimpin Myanmar (de facto leader). Walaupun, semua menutup mata – hak pilih masyarakat Rohingya tidak diakui – ada jutaan pemilik suara Muslim dinyatakan tidak syah.
Presiden Obama dua kali datang ke Myanmar mengunjungi Aung San Suu Kyi (2012 dan 2014), pertama dalam sejarah Amerika, seorang Presiden dua kali mengunjungi Myanmar. Amerika begitu dekat dengan Myanmar.
Kesalahan Donald Trump.
Begitu Trump dilantik, ia tidak berkomunikasi dengan Aung San Suu Kyi. Padahal Trump melakukan kontak dengan Thailand, Vietnam dan Filpina yang mulai merapat ke China. Menurut staf Kepresidenan, karena dianggapnya, Myanmar tidak akan masalah, tetap berkiblat ke Barat.
Namun, tiba-tiba April 2017, Aung San Suu Kyi mengunjungi Beijing bertemu dengan Pemimpin China, Xi Jinping. Dua kali dalam tahun 2017. Pemerintahan Amerika “grogi”, menurut The Washington Post.
Penasehat Trump menganjurkan agar Wakil Presiden segera datang ke Jakarta, bulan April 2017, sehari setelah pilkada Jakarta, setor muka ke Indonesia. Selain menanyakan Freeport. Sambil membawa pesan dari Trump, bahwa pada November tahun ini, Presiden AS akan hadir pada pertemuan ASEAN.
Dalam kesempatan lain juga berjumpa dengan RI-2, ingin berkunjung ke Masjid Istqlal yang fenomenal. Serta ingin berdiskusi dengan pemuka agama di Indonesia. Dimata, Mike Pence, Indonesia adalah Negara yang memberi inspirasi kepada dunia bagaimana toleransi banyak agama, budaya, etnis diterapkan di Nusantara (CNN, BBC) - disaat Negara lain sedang kesulitan menjaga toleransi dan Islamofobia, termasuk di AS sendiri.
TERLAMBAT
Myanmar sudah sangat dekat dengan China (silent operation) yang membawa YUAN sebagai bantuan dana pinjaman untuk membangun berbagai infrastruktur – termasuk bidang energi diwilayah pemukiman Rohingya, Rakhine State.
The New York Times, bulan Juli melaporkan “ CHINA memberi banyak perhatian ke MYANMAR, sedangkan Trump matanya entah kemana?”
Untuk mengamankan investasi, wilayah tersebut harus stabil dan aman. Lahan harus dibebaskan.
China dan Myanmar memiliki kesamaan pandangan untuk bersikap lebih keras terhadap Rohingya Muslim, menjalankan rencana yang telah ada (The Ecologist). Pipa besar dan panjang yang akan mengalirkan minyak dan LNG ke China dibawah BUMN eneriy China (CNPC). Membangun “deep sea port” di Kyaupyu, di pelabuhan Rakhine wilayah Rohingya yang memberi akses ke Lautan Hindia, senilai, 7.3 milyar dolar – serupa dengan Deep Sea Port yang akan dibangun di Meikarta. Termasuk pembangunan “wilayah Industri” – mengikuti proyek Global China – “One Belt, One Road”. Total senilai 1 T dolar bagi pembangunan Myanmar (TNYT).
Progran “ethnic cleansing” dijalankan makin massif untuk mengusir penduduk Rohingya. Penduduk Rohingya dengan berbagai cara terusir, mengungsi, dihabisi dan sebagian melawan dengan senjata seadanya.
Media Barat dan Myanmar menyebutnya beragam bagi perlawanan Rohingya, milisi, pemberontak, Bengali Radikal dan Inggris menyebutnya “teroris”. Mereka menyerang Polisi untuk diambil senjatanya.
Menurut Nafeez Ahmad, pembersihan etnik akan berlangsung terus. Konflik bukanlah suatu kebetulan, tetapi “by design”.
Setiap laporan PBB di Dewan Keamanan untuk menyelidiki pembantaian penduduk Rohingya di Myanmar, akan ditolak oleh China. Negara-negara Baratpun mendua, tidak sepenuh hati, karena ada kepentingan Korporasi mereka di wilayah konflik dan sumber hidrokarbon, oil, LNG, jalur pipa minyak dan pelabuhan.
Ini laporan The Ecologist lebih lanjut.
"This includes ethnically cleansing the Rohingya coastal communities in Kyaukpyu, Rakhine. "Much of the attention has been on the pipeline's diagonal path across Burma and the role of the military in securing it", reports Forbes. "But there are also concerns about the impact on Kyaukpyu and other coastal areas."
Nafeez Ahmad PhD dari The Sydney Herald Tribune menyebut Rohingya sebagai “korban” Geopolitical Tug Of War" di Asia selain memang sentimen agama yang dikobarkan di Myanmar karena Islamofobia.
Aung San Suu Kyi, seorang wanita (de facto leader), ternyata tidak mencerminkan sebagai Pemenang Noble, tetapi ia seorang politisi yang sangat mungkin terkooptasi atau dibawah pengaruh para Jendral lama yang masih berkuasa di Myanmar dan kini dekat dengan China. (CNNIndonesia 1/9).
“China and Myanmar have also found common cause in their hard line on Muslims” (The New York Times).
"China dan Myanmar juga menemukan penyebab umum dalam garis keras (radikal) mereka terhadap umat Islam" (The New York Times).
Rohingya korban “Geopolitical Tug Of War”, berada di waktu dan tempat yang salah – ada kandungan Hidrokarbon dan tarik-tarikan pengaruh di wilayah ekonomi. (The Ecologist).
Negara-negara yang terlibat di dalamnya tidak akan pernah bisa adil.
Semoga ada jalan untuk menyelamatkan mereka yang tertindas.
Foto 1, credit MCR, kamp Rohingya yang dlhancurkan militer Myanmar, 2016.
GEOPOLITICAL TUG OF WAR
Sat, 10.26
By : Arifin Mufti
Sejumlah teman (pria dan wanita) ingin mengetahui lebih lanjut tentang Myanmar dan Rohingya (di wilayah Rakhine). Apa boleh buat, karena ditanya terus, maka disajikan secara ringkas – dengan gaya bahasa bebas - supaya mudah .
Tapi bacanya santai saja ya – jangan bawa perasaan – maklum, agak sensi.
Istilah “Tug Of War” dalam olah raga adalah lomba TARIK TAMBANG, atau adu kuat tarik tambang. Dalam geopolitik artinya adu kuat/pengaruh memperebutkan satu wilayah strategis biasanya antara Barat vs China di Asia.
Klasifikasinya, dibawah “proxy war”.
Kita mulai dengan Sidang Tertutup Dewan Keamanan PBB (UNSC) yang dihadiri 15 negara di New York, Rabu 30 Agustus 2017. Inggris, Matthew Rycroft, mengajukan usul mendiskusikan isu pembantaian ROHINGYA di Myanmar. China menolak dengan keras, dan sangat keberatan (AFP, 31/8).
Demikian juga bulan Juni lalu, ketika diusulkan investigasi adanya Pembersihan Etnik di Myanmar oleh tim PBB, China MENOLAK. Bulan Maret sebelumnya juga sama ditolak China. (The New York Times, The Washington Post, The Elevennews).
Tim PBB, bulan Juni, juga tidak bisa masuk Myanmar karena ditolak visanya oleh Pemerintah Myanmar. Pemerintah Myanmar didukung China sepenuhnya, sehingga berani menolak (The Eleven).
Menjadi menarik, ketika wakil dari Inggris berkata pada Sidang DK PBB: “ Kami bersama yang mendukung kepemimpinan Aung San Kyi masih respek sebagaimana sebelumnya” (AFP).
Ada banyak kepentingan sejumlah Negara-negara besar di Myanmar yang diwakili Korporasi dunia disana, keamanan investasi. Utamanya Inggris, Amerika, China, Korea Selatan, Uni Eropa dan sejumlah Negara Teluk.
Lalu apakah Pembersihan Etnik Rohingya hanyalah peristiwa insidentil saja?
Jawabnya, tidak.
Oktober 2015, dari dokumen yang bocor di Inggris – “International State Crime Initiative (ISCI) di Queen Mary University di London menyimpulkan bahwa Rohingya yang menduduki wilayah Rakhine State menghadapi ancaman proses genosida tahap akhir. Dokumen yang dimiliki pemerintah Inggris bersumber dari intelijen di Myanmar, memperlihatkan rencana yang menyangkut “pembersihan secara masal yang telah disiapkan oleh Pemerintah Myanmar Tingkatan Tertinggi. Diungkapkan oleh jurnalis Nafeez Ahmad PhD, spesialis “Investigative Report dari The Sydney Morning Herald dan The Age, media dunia di Australia. Dimuat juga di Majalah The Echologist dan Harian lokal di Timur Tengah.
Laporan tersebut meliputi rencana “perkosaan, pembantaian oleh masyarakat, penahanan atas kasus hukum, penyerobotan tanah, pembakaran rumah, isolasi oleh Pemerintahan, menyudutkan Rohingya Muslim dengan sentimen keagamaan (pemeluk Budha vs Muslim), pembakaran, menghabisinya atau mengusirnya. Dimulai dari hak pilihnya dihilangkan, job dan hak memiliki tanah dan diusir atau di eliminasi dengan tidak diberi identitas. Walaupun dalam sejarah, mereka umumnya sudah ada di Myanmar sejak abad ke-8 M.
Itu semua, salah satunya (selain sentimen perbedaan agama) karena wilayah Rakhine dan Sanghan menyimpan, merujuk laporan Departemen Perdagangan dan Investasi Inggris (UKTI), kandungan minyak senilai 3,2 juta barel dan cadangan LNG yang sangat besar – yang diketahui juga oleh KORPORASI Dunia dibidang Energi (Inggris, Amerika, UE, China, Korea Selatan dan sejumlah perusahaan energi Negara Teluk).
Penduduk disana harus pergi, karena akan digunakan sebagai jalur pipa minyak, industri energi dan “Deep Sea Port” akses ke Lautan Hindia.
Contoh saja, “parallel gas pipeline” sejak tahun 2014 telah mengalirkan 4 milyar meter kubik metana dari Myanmar dan Qatar ke China dari pelabuhan Kyaukpyu di Rakhine State (lokasi penduduk Rohingya).
Era Barack Obama, Aung San Suu Kyi dilih sebagai “proxy”, dibina dan didukung oleh Uni Eropa dan Amerika untuk melawan rezim militer dan membendung pengaruh Komunis China, mengamankan asset sejumlah Korporasi, reformasi ekonomi dan politik serta “proses demokratisasi” yang mengarah pada manfaat ekonomi, sejak tahun 2011.
Sehingga akhirnya berhasil, memenangkan Pemilu di tahun 2016, menumbangkan rezim militer – dipuji oleh UE sebagai pemilu demokratis, adil dan transparan , didukung media dunia (media korporat) bisa memenangkan rezim militer dan diangkat sebagai Pemimpin Myanmar (de facto leader). Walaupun, semua menutup mata – hak pilih masyarakat Rohingya tidak diakui – ada jutaan pemilik suara Muslim dinyatakan tidak syah.
Presiden Obama dua kali datang ke Myanmar mengunjungi Aung San Suu Kyi (2012 dan 2014), pertama dalam sejarah Amerika, seorang Presiden dua kali mengunjungi Myanmar. Amerika begitu dekat dengan Myanmar.
Kesalahan Donald Trump.
Begitu Trump dilantik, ia tidak berkomunikasi dengan Aung San Suu Kyi. Padahal Trump melakukan kontak dengan Thailand, Vietnam dan Filpina yang mulai merapat ke China. Menurut staf Kepresidenan, karena dianggapnya, Myanmar tidak akan masalah, tetap berkiblat ke Barat.
Namun, tiba-tiba April 2017, Aung San Suu Kyi mengunjungi Beijing bertemu dengan Pemimpin China, Xi Jinping. Dua kali dalam tahun 2017. Pemerintahan Amerika “grogi”, menurut The Washington Post.
Penasehat Trump menganjurkan agar Wakil Presiden segera datang ke Jakarta, bulan April 2017, sehari setelah pilkada Jakarta, setor muka ke Indonesia. Selain menanyakan Freeport. Sambil membawa pesan dari Trump, bahwa pada November tahun ini, Presiden AS akan hadir pada pertemuan ASEAN.
Dalam kesempatan lain juga berjumpa dengan RI-2, ingin berkunjung ke Masjid Istqlal yang fenomenal. Serta ingin berdiskusi dengan pemuka agama di Indonesia. Dimata, Mike Pence, Indonesia adalah Negara yang memberi inspirasi kepada dunia bagaimana toleransi banyak agama, budaya, etnis diterapkan di Nusantara (CNN, BBC) - disaat Negara lain sedang kesulitan menjaga toleransi dan Islamofobia, termasuk di AS sendiri.
TERLAMBAT
Myanmar sudah sangat dekat dengan China (silent operation) yang membawa YUAN sebagai bantuan dana pinjaman untuk membangun berbagai infrastruktur – termasuk bidang energi diwilayah pemukiman Rohingya, Rakhine State.
The New York Times, bulan Juli melaporkan “ CHINA memberi banyak perhatian ke MYANMAR, sedangkan Trump matanya entah kemana?”
Untuk mengamankan investasi, wilayah tersebut harus stabil dan aman. Lahan harus dibebaskan.
China dan Myanmar memiliki kesamaan pandangan untuk bersikap lebih keras terhadap Rohingya Muslim, menjalankan rencana yang telah ada (The Ecologist). Pipa besar dan panjang yang akan mengalirkan minyak dan LNG ke China dibawah BUMN eneriy China (CNPC). Membangun “deep sea port” di Kyaupyu, di pelabuhan Rakhine wilayah Rohingya yang memberi akses ke Lautan Hindia, senilai, 7.3 milyar dolar – serupa dengan Deep Sea Port yang akan dibangun di Meikarta. Termasuk pembangunan “wilayah Industri” – mengikuti proyek Global China – “One Belt, One Road”. Total senilai 1 T dolar bagi pembangunan Myanmar (TNYT).
Progran “ethnic cleansing” dijalankan makin massif untuk mengusir penduduk Rohingya. Penduduk Rohingya dengan berbagai cara terusir, mengungsi, dihabisi dan sebagian melawan dengan senjata seadanya.
Media Barat dan Myanmar menyebutnya beragam bagi perlawanan Rohingya, milisi, pemberontak, Bengali Radikal dan Inggris menyebutnya “teroris”. Mereka menyerang Polisi untuk diambil senjatanya.
Menurut Nafeez Ahmad, pembersihan etnik akan berlangsung terus. Konflik bukanlah suatu kebetulan, tetapi “by design”.
Setiap laporan PBB di Dewan Keamanan untuk menyelidiki pembantaian penduduk Rohingya di Myanmar, akan ditolak oleh China. Negara-negara Baratpun mendua, tidak sepenuh hati, karena ada kepentingan Korporasi mereka di wilayah konflik dan sumber hidrokarbon, oil, LNG, jalur pipa minyak dan pelabuhan.
Ini laporan The Ecologist lebih lanjut.
"This includes ethnically cleansing the Rohingya coastal communities in Kyaukpyu, Rakhine. "Much of the attention has been on the pipeline's diagonal path across Burma and the role of the military in securing it", reports Forbes. "But there are also concerns about the impact on Kyaukpyu and other coastal areas."
Nafeez Ahmad PhD dari The Sydney Herald Tribune menyebut Rohingya sebagai “korban” Geopolitical Tug Of War" di Asia selain memang sentimen agama yang dikobarkan di Myanmar karena Islamofobia.
Aung San Suu Kyi, seorang wanita (de facto leader), ternyata tidak mencerminkan sebagai Pemenang Noble, tetapi ia seorang politisi yang sangat mungkin terkooptasi atau dibawah pengaruh para Jendral lama yang masih berkuasa di Myanmar dan kini dekat dengan China. (CNNIndonesia 1/9).
“China and Myanmar have also found common cause in their hard line on Muslims” (The New York Times).
"China dan Myanmar juga menemukan penyebab umum dalam garis keras (radikal) mereka terhadap umat Islam" (The New York Times).
Rohingya korban “Geopolitical Tug Of War”, berada di waktu dan tempat yang salah – ada kandungan Hidrokarbon dan tarik-tarikan pengaruh di wilayah ekonomi. (The Ecologist).
Negara-negara yang terlibat di dalamnya tidak akan pernah bisa adil.
Semoga ada jalan untuk menyelamatkan mereka yang tertindas.
Foto 1, credit MCR, kamp Rohingya yang dlhancurkan militer Myanmar, 2016.
Minggu, 27 Agustus 2017
Sejarah Pejuang Muslim
*Tentang kolaborasi Kristen dg Kolonialis* ini ada satu artikel bagus:
*SIMAKLAH SEJARAH : SIAPA CINTA NKRI ?*
_(Dr. Ir. Masri Sitanggang)_
Aku betul-betul terganggu dengan tudingan anti NKRI, anti kebhinekaan dan anti Pancasila yang dialamatkan kepada kelompok Islam hanya karena mereka mengamalkan syariat agamanya. Aku tersinggung, marah dan “terpaksa” menuliskan kembali catatan-catatan penting sejarah tentang perjuangan memerdekakan bangsa ini; agar jelas kelompok mana berperan sebagai apa : Pahlawan cinta NKRI atau bagian dari penjajah? Terpaksa, karena akhlaq Islam mengajarkan umatnya untuk tidak menepuk dada, menyebut-nyebut kebaikan yang pernah dibuatnya. Karena itu pula Aku, dalam artikel ini, akan mengutip sumber-sumber dari kalangan non muslim.
Perjuangan kemerdekaan muncul karena adanya penjajahan dan itu dimulai sejak Portugis menyerang Kesultanan Malaka di sekitar tahun 1511. Sebelum itu, tidak ada perjuangan kemerdekaan, artinya, tidak ada penjajahan. Meski berbeda suku bangsa dan bahasa di tengah mayoritas muslim, rakyat hidup aman tentram di bawah Pemerintahan Kesultanan. Nusantara ketika itu memang berada di bawah kekuasaan kesultanan-kesultanan di mana antar kesultanan terjalin hubungan erat bahkan hingga ke luar Nusantara; dan perlu diingat, yang namanya Sultan sudah pastilah muslim dan Syariat Islam diberlakukan.
Kedatangan Portugis tidak terlepas dari semangat Perang Salib. Dr.W.Bonar Sijabat (dalam KH Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, 1979) menerangkan, sekalipun orang-orang Eropa kocar-kacir akibat pukulan-pukulan dari musuhnya (Islam) dalam bagian terakhir dari Perang Salib, namun takluknya Kerajaan Islam di Granada (Spanyol) tahun 1492 dan berhasilnya Colombus mendarat di benua Amerika membuat Spanyol dan Portugis masuk kepada suatu lonjakan sejarah yang maha hebat. Tetapi itu bukanlah alasan satu-satunya. Menurut Pdt. Dr. Jan S. Aritonang (Sejarah Penjumaan Kristen dan Islam di Indonesia, 2005), Paus Alexander VI membagi dua kekuasaan di dunia : belahan Barat untuk Spanyol dan belahan Timur untuk Portugis. Paus memberi restu dan mandat kepada kedua negara –sebagai penghargaan atas jasa merka dalam Perang Salib melawan tentara Islam, untuk menaklukkan kawasan-kawasan yang mereka lalui dan menanamkan Kristen kepada penduduknya. Mandat ini tertuang di dalam Bulla (maklumat) Paus Alexander VI tanggal 4 Mei 1493 dan perjanjian Tordesillas 9 Juni 1494. Karena itulah Hamka (Sejarah Umat Islam IV, 1976) menilai penyerbuan ke negeri-negeri Timur lebih besar karena dorongan kemenangan dan penyiaran agama ketimbang keinginan berniaga. Demikian juga pendapat tokoh gereja Indonesia, TB. Simatupang (Iman Kristen dan Pancasila, 1989), katanya:
“Orang Portugis datang ke Indonesia dengan suatu pengertian teologi dan politik di balik tujuan mereka untuk mematahkan ekonomi orang Islam (yang menguasai perdagangan dari Indonesia ke Eropa), dan menduduki wilayah negeri-negeri lain dalam nama raja Portugal serta memenangkan penduduk negeri-negeri itu untuk Gereja Roma Katolik”.
Jan S. Aritonang (2005) menyebut bangsa Barat datang sambil mengibarkan panji-panji Kristen, termasuk tanda salib di bendera kapal-kapal dagang mereka. Di dalam diri penguasa Portugis dan Sepanyol tertanam dendam yang mendalam terhadap Islam, dendam Perang Salib. Dan Semua itu tergambar dalam pidato Panglima Perang Portugis Alfonso Albuquerque di depan pasukannya ketika akan menyarang kerajaan Islam Malaka ( Hamka, 1976) : “Adalah satu pengabdian maha besar dari kita kepada Tuhan apabila kita telah dapat mengusir orang Arab dari daerah ini kelak, sehingga nyala pelita ajaran Muhammad itu padam dan tidak akan bangkit lagi untuk selama-lamanya”.
Pada bagian lain pidatonya, dikatakan :
“…karena saya yakin apabila semenanjung Malaka ini telah kita rebut dari tangan mereka, Kaum Muslimin itu, dengan sendirinya Kairo dan Mekkah jadi tanah tandus yang tidak ada penduduknya lagi. Dan orang Venesia sendiri tidak akan dapat berniaga rempah-rempah kalau tidak membeli kepada kita”.
Bagian akhir pidato ini membuktikan hal lain, yakni eratnya hubungan negeri-negeri Islam saat itu, betapa negeri Melayu ini tidak terpisahkan dengan (sejarah) negeri Islam di mana pun. Saifuddin Zuhri (1979) bahkan mengatakan bahwa peranan Kerajaan Pasai di Aceh sangat besar dalam mempertahankan Masjid Aqsha pada masa Perang Salib. Karena itu pula kemudian dapat dipahami mengapa Mesir (Kairo) dan negara-negara Islam menjadi negara pertama yang mengakui Kemerdekaan RI, sementara negara Barat Kristen sangat terlambat.
Di mana-mana di Nusantra ini Portugis menghadapi kekuatan Islam yang dipimpin para Sultan dan Ulama. Meski Kesultanan Malaka dan Kerajaan Islam Pasai di Aceh dapat ditaklukkan, tetapi ambisi Portugis untuk menguasai Sunda Kelapa dapat dipatahkan oleh Sultan Fatahillah yang kemudian memberi nama Jayakarta (Jakarta) untuk daerah itu.
Di Ternate, setelah terjadi beberapa kali konflik senjata, terdapat kesepakatan antara Portugis dan Sultan Khairun : perdagangan boleh dimonopoli Portugis, tapi bidang agama Sultan Khairun yang berwenang. Namun seperti dikatakan T.B. Simatupang (1989) bahwa misi Portugis ke Indonesia adalah menduduki wilayah dalam nama raja Portugal serta memenangkan penduduk negerinya untuk Gereja Roma Katolik, maka keadaan tetap tidak aman; umat Islam di mana-mana mendapat tekanan. Akhirnya Sultan Khairun membolehkan penyiaran Kristen dengan catatan harus dilakukan di daerah yang penduduknya belum Islam, yakni Ambon. Di Ternate, karena pendudukya sudah Islam, Portugis hanya boleh berdagang. Ini ditempuh Sultan karena Baginda merasa bertanggung jawab terhadap aqidah rakyatnya.
Tetapi oleh Portugis dibalik, Ambon dijadikan pusat perdagangan dan Ternate dijadikan pusat penyiaran Kristen, yang menyebabkan Sultan memaklumkan’’Perang Sabil’’. Kepada pasukannya, Baginda memerintahkan untuk mengusir semua orang Kristen dari Ternate, baik orang Portugis maupun pribumi. Mengapa ? Menurut Hamka (1976), orang-orang yang telah memeluk Kristen tidak mau mengakui kekuasaan Sultan lagi. “Dan yang lebih berbahaya daripada itu”, tulis Hamka, “ialah bahwa seketika terjadi perselisihan-perselisihan di antara Sultan dengan Gabnor, orang-orang Krsiten anak negeri selalu berpihak kepada Potugis, bahkan ada yang menjadi mata-mata Portugis.” Jan S. Aritonang (2005) mengonfirmasi adanya missionaris Portugis bersama Kristen anak negeri yang tewas dalam beberapa kali bentrokan melawan pihak kesultanan, yang memberi bukti bahwa anak negeri yang telah Kristen memang berada di pihak Penjajah.
Ketika Portugis terdesak dan kemudian meminta damai, Sultan bersedia bersahabat lagi asal portugis tidak menjadikan Ternate sebagai pusat penyiaran Kristen. Ini menunjukkan betapa faktor agama menjadi begitu penting dalam hubungan kedua bangsa ini. Perjanjian damai ditandatangani, Sultan memegang Al-Quran dan Gubernur Portugis memegang Injil; do’a dipimpin oleh qadi Islam.
Tapi sayang, Sultan di bunuh ketika bersantap dalam jamuan makan yang sengaja dibuat oleh Portugis untuk menghormati perjanjaian suci itu, Pebruari 1570. Suatu penghianatan yang sangat keji, yang membakar semangat perang total melawan Portugis, Sultan Babullah, pengganti Sultan Khairun, mengepung benteng penjajah Portugis di Ambon. Terbukti pula Raja Bacan, yang telah memeluk Kristen, membantu Portugis yang terkepung dengan menyuplai bahan makanan. Bukan main murkanya Sultan Babullah sehingga mengancam akan memusnahkan kerajaan Bacan. Takut akan ancaman, Bacan berhenti menyuplai bahan makanan. Benteng Ambon jatuh ke tangan Pasukan Islam, Portugis lari ke Malaka. Sultan Babullah menyatakan tidak akan membunuh Kristen anak negeri dan tidak akan dipaksa masuk Islam asal mereka tunduk kepada kekuasaan Sultan.
Masuklah ke era kolonial Kristen Protestan Belanda. Sudah umum pula diketahui bahwa mereka yang tampil memimpin perjuangan mengusir Belanda adalah para pemuka agama Islam. Clifford Greetz (dalam A. Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah : Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, 1995) menyebut perlawanan menentang Belanda ini sebagai “pemberontakan Santri’’. Simbol-simbol perjuangan dan slogannya menonjolkan semangat Islam, semangat jihad dan kesediaan mati syahid. Imam Bonjol di Padang dengan perang Paderinya, Teuku Umar dan Cik Ditiro di Aceh dengan "Perang Sabil" melawan orang "kape"-nya, Diponegoro di Jawa dengan "Perang Sabil" dan jubah putihnya, begitu juga Sultan Hasanuddin di Sulawesi dan Si Singamangaraja ke XII di Toba. Suryanegara (1995) menyebut, penyebaran Kristen menjadi pangkal perlawanan Si Singamangaraja XII (SSM XII) terhadap Belanda. Ini sejalan dengan pernyataan J.P.G.Westhoff : ”Untuk tetap memiliki jajahan-jajahan kita, sebagian besar adalah tergantung dari pengkristenan rakyat.”
Aritonang (2005) menyebut SSM XII menentang Zending Kristen dikarenakan Zending dijadikan alat pemerintah Hindia Belanda untuk menguasai wilayahnya. Menurut Suryanegara (1995) daerah-daerah yang telah dipengaruhi Kristen secara administrasi diserahkan oleh misionaris kepada Belanda. Untuk itu pemerintah Belanda merasa berhutang budi kepada missionaris Nomensen sehingga 1991 ia diberi bintang Officer van Oranje-Nassau.
Fakta-fakta yang disampaikan Suryanegara (1995) berupa kliping koran yang diterbitkan Belanda dan kenyataan bahwa dalam perlawanannya menentang Belanda Raja Toba itu dibantu oleh Panglima Nali dari Minangkabau dan Panglima Teuku Mohammad dari Aceh, meyakinkan Bahwa SSM XII adalah muslim.
Bagaimana sikap orang-orang yang telah “ditunjuki” Belanda kepada Kristen ? T.B. Simatupang (1989) menuturkan : “Orang-orang Kristen yang menjadi nasionalis –yang berarti menentang Belanda, dianggap oleh gereja sebagai tidak lagi orang-orang Kristen yang baik.” Sementara tokoh Kristen lainnya, Dr. Mulia (dalam Simatupang 1989) mengakui adaya kesan bahwa misi Kristen di Tapanuli, Minabasa dan Maluku hanya melayani tata hidup kolonial dan kapitalis. Artinya, gereja secara lembaga tidak berada pada barisan perjuangan kemerdekaan, melainkan di pihak penjajah Belanda.
Uraian Ahmad Mansur Suryanegara (Api Sejarah 2, 2012) ini perlu juga dicatat. Kongres Nasional Syarikat Islam di Bandung, 17-24 Juni 1916, memutuskan memelopori tuntutan pemerintahan sendiri, berjuang untuk Indonesia merdeka dan tegaknya pemerintahan yang demokratis dengan adanya parlemen. Lain dari itu, para pemimpin Islam berupaya membangun organisasi kesenjataan modern melalui Indie Weerbar Actie, untuk membangkitkan kembali semangat keprajuritan pemuda. Namun tuntutan Indie Weerbar itu itu ditolak Belanda. Ini terjadi karena pimpinan partai-partai non religius dan sekuler seperti Parindra, Gerindo, Parpindo serta partai non Islam seperti Partai Kristen dan Partai Katolik dengan politik asosiasinya berpihak dan memertahankan pemerintahan penjajah Belanda. Mengutip A.K. Pringgodigdo, Suryanegara (2012) mengatakan sikap partai-partai Kristen itu sebagai akibat partai tersebut dipimpin oleh orang Belanda.
Begitulah perjuangan Ummat Islam memerdekaan bangsa ini dari penjajah Katolik Portugis, begitu pula di masa penjajah Protestan Belanda serta Inggris dan demikian juga di masa mempertahankan kemerdekaan dari sekutu. Pada masa serangan sekutu, Resolusi Jihad Ulama dan teriakan Takbir Bung Tomo serta kepemimpinan Jendral Sudirman adalah legenda rakyat muslim Indonesia mempertahankan NKRI yang tak boleh dilupakan.
Jujurlah pada sejarah, agar kita bisa saling hormat dan menghargai. Jujur pulalah dalam bernegara agar Indonesia benar-benar menjadi milik bersama. Jangan ada dusta di antara kita, agar bangsa ini bisa tumbuh besar dan kuat dengan rakyat yang rukun dan damai. Meski di antara kita ada yang “ditunjuki” oleh penjajah (Portugis atau Belanda), tinggalkanlah cara-cara bangsa asing itu. Jadilah sepenuhnya bangsa Indonesia. Janganlah Umat Islam dituduh anti NKRI, anti kebhinekaan, radikal dan lain semacamnya karena itu menyakitkan. Tuduhan itu hanya layak dilontarkan oleh penjajah dan itu berarti membangkitkan kenangan lama : perlawanan umat Islam menentang penjajah dan antek-anteknya !.
Wallahu a’lam bishshawab.
*SIMAKLAH SEJARAH : SIAPA CINTA NKRI ?*
_(Dr. Ir. Masri Sitanggang)_
Aku betul-betul terganggu dengan tudingan anti NKRI, anti kebhinekaan dan anti Pancasila yang dialamatkan kepada kelompok Islam hanya karena mereka mengamalkan syariat agamanya. Aku tersinggung, marah dan “terpaksa” menuliskan kembali catatan-catatan penting sejarah tentang perjuangan memerdekakan bangsa ini; agar jelas kelompok mana berperan sebagai apa : Pahlawan cinta NKRI atau bagian dari penjajah? Terpaksa, karena akhlaq Islam mengajarkan umatnya untuk tidak menepuk dada, menyebut-nyebut kebaikan yang pernah dibuatnya. Karena itu pula Aku, dalam artikel ini, akan mengutip sumber-sumber dari kalangan non muslim.
Perjuangan kemerdekaan muncul karena adanya penjajahan dan itu dimulai sejak Portugis menyerang Kesultanan Malaka di sekitar tahun 1511. Sebelum itu, tidak ada perjuangan kemerdekaan, artinya, tidak ada penjajahan. Meski berbeda suku bangsa dan bahasa di tengah mayoritas muslim, rakyat hidup aman tentram di bawah Pemerintahan Kesultanan. Nusantara ketika itu memang berada di bawah kekuasaan kesultanan-kesultanan di mana antar kesultanan terjalin hubungan erat bahkan hingga ke luar Nusantara; dan perlu diingat, yang namanya Sultan sudah pastilah muslim dan Syariat Islam diberlakukan.
Kedatangan Portugis tidak terlepas dari semangat Perang Salib. Dr.W.Bonar Sijabat (dalam KH Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, 1979) menerangkan, sekalipun orang-orang Eropa kocar-kacir akibat pukulan-pukulan dari musuhnya (Islam) dalam bagian terakhir dari Perang Salib, namun takluknya Kerajaan Islam di Granada (Spanyol) tahun 1492 dan berhasilnya Colombus mendarat di benua Amerika membuat Spanyol dan Portugis masuk kepada suatu lonjakan sejarah yang maha hebat. Tetapi itu bukanlah alasan satu-satunya. Menurut Pdt. Dr. Jan S. Aritonang (Sejarah Penjumaan Kristen dan Islam di Indonesia, 2005), Paus Alexander VI membagi dua kekuasaan di dunia : belahan Barat untuk Spanyol dan belahan Timur untuk Portugis. Paus memberi restu dan mandat kepada kedua negara –sebagai penghargaan atas jasa merka dalam Perang Salib melawan tentara Islam, untuk menaklukkan kawasan-kawasan yang mereka lalui dan menanamkan Kristen kepada penduduknya. Mandat ini tertuang di dalam Bulla (maklumat) Paus Alexander VI tanggal 4 Mei 1493 dan perjanjian Tordesillas 9 Juni 1494. Karena itulah Hamka (Sejarah Umat Islam IV, 1976) menilai penyerbuan ke negeri-negeri Timur lebih besar karena dorongan kemenangan dan penyiaran agama ketimbang keinginan berniaga. Demikian juga pendapat tokoh gereja Indonesia, TB. Simatupang (Iman Kristen dan Pancasila, 1989), katanya:
“Orang Portugis datang ke Indonesia dengan suatu pengertian teologi dan politik di balik tujuan mereka untuk mematahkan ekonomi orang Islam (yang menguasai perdagangan dari Indonesia ke Eropa), dan menduduki wilayah negeri-negeri lain dalam nama raja Portugal serta memenangkan penduduk negeri-negeri itu untuk Gereja Roma Katolik”.
Jan S. Aritonang (2005) menyebut bangsa Barat datang sambil mengibarkan panji-panji Kristen, termasuk tanda salib di bendera kapal-kapal dagang mereka. Di dalam diri penguasa Portugis dan Sepanyol tertanam dendam yang mendalam terhadap Islam, dendam Perang Salib. Dan Semua itu tergambar dalam pidato Panglima Perang Portugis Alfonso Albuquerque di depan pasukannya ketika akan menyarang kerajaan Islam Malaka ( Hamka, 1976) : “Adalah satu pengabdian maha besar dari kita kepada Tuhan apabila kita telah dapat mengusir orang Arab dari daerah ini kelak, sehingga nyala pelita ajaran Muhammad itu padam dan tidak akan bangkit lagi untuk selama-lamanya”.
Pada bagian lain pidatonya, dikatakan :
“…karena saya yakin apabila semenanjung Malaka ini telah kita rebut dari tangan mereka, Kaum Muslimin itu, dengan sendirinya Kairo dan Mekkah jadi tanah tandus yang tidak ada penduduknya lagi. Dan orang Venesia sendiri tidak akan dapat berniaga rempah-rempah kalau tidak membeli kepada kita”.
Bagian akhir pidato ini membuktikan hal lain, yakni eratnya hubungan negeri-negeri Islam saat itu, betapa negeri Melayu ini tidak terpisahkan dengan (sejarah) negeri Islam di mana pun. Saifuddin Zuhri (1979) bahkan mengatakan bahwa peranan Kerajaan Pasai di Aceh sangat besar dalam mempertahankan Masjid Aqsha pada masa Perang Salib. Karena itu pula kemudian dapat dipahami mengapa Mesir (Kairo) dan negara-negara Islam menjadi negara pertama yang mengakui Kemerdekaan RI, sementara negara Barat Kristen sangat terlambat.
Di mana-mana di Nusantra ini Portugis menghadapi kekuatan Islam yang dipimpin para Sultan dan Ulama. Meski Kesultanan Malaka dan Kerajaan Islam Pasai di Aceh dapat ditaklukkan, tetapi ambisi Portugis untuk menguasai Sunda Kelapa dapat dipatahkan oleh Sultan Fatahillah yang kemudian memberi nama Jayakarta (Jakarta) untuk daerah itu.
Di Ternate, setelah terjadi beberapa kali konflik senjata, terdapat kesepakatan antara Portugis dan Sultan Khairun : perdagangan boleh dimonopoli Portugis, tapi bidang agama Sultan Khairun yang berwenang. Namun seperti dikatakan T.B. Simatupang (1989) bahwa misi Portugis ke Indonesia adalah menduduki wilayah dalam nama raja Portugal serta memenangkan penduduk negerinya untuk Gereja Roma Katolik, maka keadaan tetap tidak aman; umat Islam di mana-mana mendapat tekanan. Akhirnya Sultan Khairun membolehkan penyiaran Kristen dengan catatan harus dilakukan di daerah yang penduduknya belum Islam, yakni Ambon. Di Ternate, karena pendudukya sudah Islam, Portugis hanya boleh berdagang. Ini ditempuh Sultan karena Baginda merasa bertanggung jawab terhadap aqidah rakyatnya.
Tetapi oleh Portugis dibalik, Ambon dijadikan pusat perdagangan dan Ternate dijadikan pusat penyiaran Kristen, yang menyebabkan Sultan memaklumkan’’Perang Sabil’’. Kepada pasukannya, Baginda memerintahkan untuk mengusir semua orang Kristen dari Ternate, baik orang Portugis maupun pribumi. Mengapa ? Menurut Hamka (1976), orang-orang yang telah memeluk Kristen tidak mau mengakui kekuasaan Sultan lagi. “Dan yang lebih berbahaya daripada itu”, tulis Hamka, “ialah bahwa seketika terjadi perselisihan-perselisihan di antara Sultan dengan Gabnor, orang-orang Krsiten anak negeri selalu berpihak kepada Potugis, bahkan ada yang menjadi mata-mata Portugis.” Jan S. Aritonang (2005) mengonfirmasi adanya missionaris Portugis bersama Kristen anak negeri yang tewas dalam beberapa kali bentrokan melawan pihak kesultanan, yang memberi bukti bahwa anak negeri yang telah Kristen memang berada di pihak Penjajah.
Ketika Portugis terdesak dan kemudian meminta damai, Sultan bersedia bersahabat lagi asal portugis tidak menjadikan Ternate sebagai pusat penyiaran Kristen. Ini menunjukkan betapa faktor agama menjadi begitu penting dalam hubungan kedua bangsa ini. Perjanjian damai ditandatangani, Sultan memegang Al-Quran dan Gubernur Portugis memegang Injil; do’a dipimpin oleh qadi Islam.
Tapi sayang, Sultan di bunuh ketika bersantap dalam jamuan makan yang sengaja dibuat oleh Portugis untuk menghormati perjanjaian suci itu, Pebruari 1570. Suatu penghianatan yang sangat keji, yang membakar semangat perang total melawan Portugis, Sultan Babullah, pengganti Sultan Khairun, mengepung benteng penjajah Portugis di Ambon. Terbukti pula Raja Bacan, yang telah memeluk Kristen, membantu Portugis yang terkepung dengan menyuplai bahan makanan. Bukan main murkanya Sultan Babullah sehingga mengancam akan memusnahkan kerajaan Bacan. Takut akan ancaman, Bacan berhenti menyuplai bahan makanan. Benteng Ambon jatuh ke tangan Pasukan Islam, Portugis lari ke Malaka. Sultan Babullah menyatakan tidak akan membunuh Kristen anak negeri dan tidak akan dipaksa masuk Islam asal mereka tunduk kepada kekuasaan Sultan.
Masuklah ke era kolonial Kristen Protestan Belanda. Sudah umum pula diketahui bahwa mereka yang tampil memimpin perjuangan mengusir Belanda adalah para pemuka agama Islam. Clifford Greetz (dalam A. Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah : Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, 1995) menyebut perlawanan menentang Belanda ini sebagai “pemberontakan Santri’’. Simbol-simbol perjuangan dan slogannya menonjolkan semangat Islam, semangat jihad dan kesediaan mati syahid. Imam Bonjol di Padang dengan perang Paderinya, Teuku Umar dan Cik Ditiro di Aceh dengan "Perang Sabil" melawan orang "kape"-nya, Diponegoro di Jawa dengan "Perang Sabil" dan jubah putihnya, begitu juga Sultan Hasanuddin di Sulawesi dan Si Singamangaraja ke XII di Toba. Suryanegara (1995) menyebut, penyebaran Kristen menjadi pangkal perlawanan Si Singamangaraja XII (SSM XII) terhadap Belanda. Ini sejalan dengan pernyataan J.P.G.Westhoff : ”Untuk tetap memiliki jajahan-jajahan kita, sebagian besar adalah tergantung dari pengkristenan rakyat.”
Aritonang (2005) menyebut SSM XII menentang Zending Kristen dikarenakan Zending dijadikan alat pemerintah Hindia Belanda untuk menguasai wilayahnya. Menurut Suryanegara (1995) daerah-daerah yang telah dipengaruhi Kristen secara administrasi diserahkan oleh misionaris kepada Belanda. Untuk itu pemerintah Belanda merasa berhutang budi kepada missionaris Nomensen sehingga 1991 ia diberi bintang Officer van Oranje-Nassau.
Fakta-fakta yang disampaikan Suryanegara (1995) berupa kliping koran yang diterbitkan Belanda dan kenyataan bahwa dalam perlawanannya menentang Belanda Raja Toba itu dibantu oleh Panglima Nali dari Minangkabau dan Panglima Teuku Mohammad dari Aceh, meyakinkan Bahwa SSM XII adalah muslim.
Bagaimana sikap orang-orang yang telah “ditunjuki” Belanda kepada Kristen ? T.B. Simatupang (1989) menuturkan : “Orang-orang Kristen yang menjadi nasionalis –yang berarti menentang Belanda, dianggap oleh gereja sebagai tidak lagi orang-orang Kristen yang baik.” Sementara tokoh Kristen lainnya, Dr. Mulia (dalam Simatupang 1989) mengakui adaya kesan bahwa misi Kristen di Tapanuli, Minabasa dan Maluku hanya melayani tata hidup kolonial dan kapitalis. Artinya, gereja secara lembaga tidak berada pada barisan perjuangan kemerdekaan, melainkan di pihak penjajah Belanda.
Uraian Ahmad Mansur Suryanegara (Api Sejarah 2, 2012) ini perlu juga dicatat. Kongres Nasional Syarikat Islam di Bandung, 17-24 Juni 1916, memutuskan memelopori tuntutan pemerintahan sendiri, berjuang untuk Indonesia merdeka dan tegaknya pemerintahan yang demokratis dengan adanya parlemen. Lain dari itu, para pemimpin Islam berupaya membangun organisasi kesenjataan modern melalui Indie Weerbar Actie, untuk membangkitkan kembali semangat keprajuritan pemuda. Namun tuntutan Indie Weerbar itu itu ditolak Belanda. Ini terjadi karena pimpinan partai-partai non religius dan sekuler seperti Parindra, Gerindo, Parpindo serta partai non Islam seperti Partai Kristen dan Partai Katolik dengan politik asosiasinya berpihak dan memertahankan pemerintahan penjajah Belanda. Mengutip A.K. Pringgodigdo, Suryanegara (2012) mengatakan sikap partai-partai Kristen itu sebagai akibat partai tersebut dipimpin oleh orang Belanda.
Begitulah perjuangan Ummat Islam memerdekaan bangsa ini dari penjajah Katolik Portugis, begitu pula di masa penjajah Protestan Belanda serta Inggris dan demikian juga di masa mempertahankan kemerdekaan dari sekutu. Pada masa serangan sekutu, Resolusi Jihad Ulama dan teriakan Takbir Bung Tomo serta kepemimpinan Jendral Sudirman adalah legenda rakyat muslim Indonesia mempertahankan NKRI yang tak boleh dilupakan.
Jujurlah pada sejarah, agar kita bisa saling hormat dan menghargai. Jujur pulalah dalam bernegara agar Indonesia benar-benar menjadi milik bersama. Jangan ada dusta di antara kita, agar bangsa ini bisa tumbuh besar dan kuat dengan rakyat yang rukun dan damai. Meski di antara kita ada yang “ditunjuki” oleh penjajah (Portugis atau Belanda), tinggalkanlah cara-cara bangsa asing itu. Jadilah sepenuhnya bangsa Indonesia. Janganlah Umat Islam dituduh anti NKRI, anti kebhinekaan, radikal dan lain semacamnya karena itu menyakitkan. Tuduhan itu hanya layak dilontarkan oleh penjajah dan itu berarti membangkitkan kenangan lama : perlawanan umat Islam menentang penjajah dan antek-anteknya !.
Wallahu a’lam bishshawab.
Sabtu, 26 Agustus 2017
DOA RAKYAT TERTINDAS
DOA RAKYAT TERTINDAS
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).
وقالوا ربنا إنا أطعنا سادتنا وكبراءنا فأضلونا السبيلا
[Quran Al Ahzab 33:67]
Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".
ربنا آتهم ضعفين من العذاب والعنهم لعنا كبيرا
[Quran Al Ahzab 33:68]
Aamin Ya Rabbal Alamin
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).
وقالوا ربنا إنا أطعنا سادتنا وكبراءنا فأضلونا السبيلا
[Quran Al Ahzab 33:67]
Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".
ربنا آتهم ضعفين من العذاب والعنهم لعنا كبيرا
[Quran Al Ahzab 33:68]
Aamin Ya Rabbal Alamin
Jumat, 25 Agustus 2017
ASYMMETRIC WAR dan PROXY
Proxy dan Asymmetric War, Ancaman Paska Pilpres 2014
Iklan
Sumber ilustrasi: http://bit.ly/1nyGras
Media mungkin jarang bisa menggiring apa yang masyarakat pikirkan. Tapi, secara menakjubkan, media selalu berhasil mendikte pembacanya untuk memikirkan tentang apa – Bernard Cohen, Professor Emeritus bidang Fisika, di University of Pittsburgh
Habis Pilpres terbitlah Asymmetric War.
Paska Pilpres 2014, konon, sejumlah kepentingan beramai-ramai melancarkan jenis perang baru. Yakni Perang Asimetrik dan Perang Boneka (Proxy & Assymetric Wars). Tidak seperti lazimnya Perang Konvensional, perang jenis baru ini tak saling menghadapkan arsenal dan persenjataan. Tak mengandalkan Tentara melawan sepasukan Tentara lain. Melainkan, menggunakan pengaruh Media (cetak, elektronik, maupun digital), jaringan social media, jurnalisme warga, dan pengaruh propaganda dan psywar. Senjata yang digunakan, berupa penyesatan informasi, pengalihan isu, provokasi, teror dan agitasi.
Cuma sebentar mereda sejurus puncak Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijjriah, ternyata perang isu, pernyataan dan penyesatan kini kembali riuh menggaduhkan lansekap media dan Media. Di tengah era keterbukaan informasi, yang ditandai terjadinya euforia social media dan jurnalisme media ala warga, ternyata kampanye disinformasi, penyesatan, fitnah, dan penghasutan, kini makin menjadi pilihan cara yang mudah, untuk menghancurkan reputasi dan kredibilitas pesaing.
Apalagi, karakter publik di sini, mudah sekali terhasut, diprovokasi dan saling dibenturkan. Padahal, semakin kegaduhan sukses memprovokasi publik, dan bentrok antar-elemen masyarakat berlangsung berlarut-larut, semakin kita sendiri yang paling dirugikan. Karena pihak pelaku Asymmetric War, memang ingin kita saling diadu-domba. Saling menghancurkan diri kita sendiri. Membuat perhatian kita teralihkan. Sehingga mereka makin mudah menyerobot dan menguasai sebanyak-banyaknya sumber-sumber daya yang berlimpah di Indonesia. Posting ini, mengulas bagaimana kelompok super-rahasia Bilderberg Group, menggunakan modus yang sama, untuk mempengaruhi tatanan dunia.
Kenapa Asymmetric War perlu diwaspadai? Karena dibanding perang lazimnya, spektrum ancaman Asymmetric War lebih luas. Obyek sasarannya bukan cuma sebatas target militer. Tapi bahkan meliputi hampir semua aspek kehidupan manusia. Makanya, senjata perusak yang digunakan, tak sekadar meriam, roket, peluru atau mesiu. Tapi hasutan, provokasi, pengalihan isu dan penyesatan informasi yang tendensius.
Asymmetric War adalah jenis perang Non-Militer. Cara, logika, metoda, taktik dan strateginya tidak konvensional. Tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku. Antarkekuatan yang saling berhadapan, tak perlu mengandalkan jumlah dan kecanggihan persenjataan pasukan. Bahkan yang saling berkonflik dan dibenturkan, tak perlu pihak yang berkepentingan. Cukup diwakili ‘pemain pengganti’. Cuma perlu mengandalkan orang suruhan. Makanya Asymmetric War ini biasanya juga sekaligus adalah Proxy War, alias Perang Boneka.
Ini, adalah jenis perang yang melibatkan kecanggihan teknologi informasi dan strategi komunikasi. Makanya, membedakan mana lawan mana kawan, sulit sekali. Pasalnya, serangan asymmetric war bersifat senyap. Hening. Tapi kehancuran yang diakibatkannya mendalam, meluas, dan sulit diperbaiki. Karena perang yang mengandalkan soft power ini, seperti diulas Basil H. Liddell di Buku Strategy ini, justru menyerang fikiran. Membengkokkan iktikad. Memelintir logika. Menghasut keyakinan. Meruntuhkan kepercayaan.
Jenis perang asimetrik ini popular, sejak berakhirnya perang dingin. Ditandai terjadinya perubahan taktik penerapan model perang konvensional, yang menggunakan cara-cara militer yang lazim. Menjadi bergeser ke jenis peperangan model yang baru samasekali. Dalam ranah diplomasi, jenis perang ini diistilahkan sebagai smart power. Lawan dari Perang Konvensional yang identik dengan hard power.
Tapi Asymmetric War ternyata juga sekaligus dimanfaatkan sebagai strategi kolonialisme baru, dari kepentingan di luar Negara. Baik penjajahan oleh kepentingan politik asing tertentu. Maupun kolonialisme korporasi, atau non-State institution lainnya.
Metodanya distraktif dan manipulatif. (biasanya) Melibatkan Lembaga penyandang dana, black operations atau klandestin, dan aktivitas intelijen. Targetnya instabilitas. Caranya, dengan mendiskreditkan kebenaran. Serta mendelegitimasi pengaruh kekuasaan. Yang ujung akhirnya, berupa penyerobotan atau penguasaan sumber-sumber daya alam atau kepentingan hajat hidup orang banyak.
Di Indonesia sendiri, perang Asymmetric ini terjadi sejak era konfrontasi menghadapi Belanda. Lantas berlanjut di era konflik dengan Republik Maluku Selatan (RMS). Ketika penumpasan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Juga saat berlangsungnya konflik Timor-Timur. Serta selama operasi menindak Gerombolan Pengacau Keamanan di Papua.
Sedemikian gawatnya operasi yang banyak menyasar remaja dan generasi muda, sehingga tak kurang dari Pangkostrad Letjen TNI Gatot Nurmantyo, awal 2014 silam, merasa perlu mengunjungi beberapa Kampus besar di Indonesia. Untuk mendiskusikan potensi ancamannya, dengan para Mahasiswa. Termasuk yang dilakukannya, adalah memberikan kuliah umum berjudul “Peran Pemuda dalam Menghadapi Proxy War“, di kampus Universitas Indonesia, Depok.
Waspadai Urutannya: Provokasi, Aksi Massa, Perampasan
Dalam Perang Konvensional, yang menjadi persenjataan pertama untuk tujuan memporak-porandakan kekuatan lawan, adalah serbuan dan aksi bombardierlewat skadron udara.
Pada tahap kedua, baru giliran pasukan Tank (kavaleri) yang maju. Tujuannya memberikan efek pukul yang lebih parah. Sehingga kekuatan musuh yang sudah dibikin babak-belur oleh serangan udara, makin dibuat cerai-berai dan compang-camping.
Setelah itu dilanjutkan serbuan pasukan infanteri. Demi makin bisa menusuk masuk ke ceruk-ceruk pasukan lawan yang tersisa. Sekaligus melakukan perebutan atas pusat-pusat kekuatan dan sumber daya pendukung lawan.
Dalam perang asymmetric yang Non Konvensional. Urutan logika serupa juga dipakai. Bedanya, senjata yang pertama digunakan mem-bombardier, adalah isu, gosip, rumor, atau fitnah dan informasi sesat. Ini dalam strategi asymmetric war diistilahkan sebagai tahapan conditioning. Atau ‘Pematangan’.
Berikutnya, demi mendapat efek kerusakan serupa seperti yang diakibatkan serbuan tank Kavaleri, maka dalam perang asymmetric, yang dikerahkan adalah massa. Ini diistilahkan ‘Tema’. Tujuannya untuk memperparah kerusakan. Mencetuskan kerusuhan. Sekaligus memantik suasana chaotic. Bikin kacau-balau, porak-poranda dan serba mawut. Persis seperti kondisi setelah dihantam meriam tank Kavaleri.
Lantas, dilanjutkan serangan pungkasan. Diistilahkan tahapan ‘Skema’. Berupa gerakan sabotase, penyusupan. Juga perusakan dan perebutan/penguasaan instalasi vital.
Ongkosnya Murah, tapi Daya Rusaknya Lebih Mengerikan
Secara beaya, dibanding perang konvensional, Asymmetric Warberbeaya relatif lebih murah. Tapi tingkat keberhasilannya tinggi. Selain itu, dibanding yang diakibatkan perang yang menggunakan senjata ‘biasa’, daya rusaknya pun, jauh lebih mengerikan.
Tak saja mengakibatkan kerusakan fisik secara geografis dan kerugian demografis. Tapi perang non-tradisional ini, juga mengakibatkan koyaknya idelogi. Menimbulkan distrust dan saling bercuriga satu-sama-lain. Meruntuhkan moral, rasa percaya diri, kebanggaan dan nasionalisme kalangan individu dan masyarakat. Bahkan bisa memberangus segala aspek sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendeknya, dampak kerusakannya meliputi aspek Politik-Ekonomi-Sosial-Budaya, termasuk Agama.
Dalam konteks ini, ulah penyerobot pulau-pulau terluar Indonesia, harus dilihat sebagai bagian dari tahapan perang tak konvensional ini. Begitu pun, klaim karya-karya kebudayaan dan adat-istiadat Suku-suku di Indonesia oleh negara tetangga. Termasuk, serangan masif para cyber warrior dan infiltrator virtual. Yang diam-diam menyusup, mengintai, menyadap dan merusak, tanpa sempat dicegah dan dilacak. Target operasi-operasi tadi, mengancam kedaulatan dan keutuhan NKRI.
Isu Domestik yang Rawan Ditunggangi
Di tengah suasana gaduh seperti sekarang, ada beberapa isu yang mudah ditungganggi dan digunakan sebagai alat Asymmetric War. Di antaranya termasuk isu demokratisasi dan amandemen konstitusi atau perundangan. Kegiatan Pilkada, Pilpres, dan rangkaian terkaitnya. Pro-Kontra isu Otonomi Daerah dan Desentralisasi. Atau kontroversi perlu-tidaknya dilakukan pemekaran wilayah atau penambahan provinsi baru.
Juga terkait pemberontakan dan isu separatisme. Pun konflik horizontal (antar-masyarakat atau melibatkan Ormas) antar-suku, agama, ras, dan antar-golongan. Termasuk juga, hiruk-pikuk pembahasan di jejaring media maupun Media, tentang isu fundamentalis-anarkis, radikalisme, hingga terorisme.
Gaduh tentang larangan mengenakan atribut, busana, atau perlengkapan yang diidentikkan agama tertentu di beberapa Provinsi adalah contohnya. Begitu pun, kegentingan terkait tudingan tindak pelanggaran HAM terhadap kaum penganut keyakinan yang minoritas jumlahnya. Lantas, wacana pengawasan tempat ibadah, demi –katanya—menangkal radikalisme. Pun, yang sedang hot saat ini, isu dan tudingan anti-pluralisme terkait State of Iraq and Syria (ISIS). Serta heboh keterlambatan pemblokiranakses videonya.
Sekadar me-refesh ingatan, sejumlah Media, dengan melansir temuan lembaga pemeringkat asing, juga pernah memberi label Indonesia sebagai Negara Gagal. Media asing tertentu juga menyoroti dampak makin parahnya praktik KKN akibat tidak berdayanya aparat mengatasinya. Begitu pun, mencibir kegagalan diplomasi Indonesia di kancah dunia. Atau, blunder penanganan masalah HAM, Lingkungan Hidup, serta Politik-Pemerintahan.
Media asing juga sempat hiruk pikuk memberitakan masih rendahnya capaian keberhasilan pembangunan Indonesia. Pun menyoal ranking indeks korupsi nasional. Ditambah lagi, heboh pengungkapan skandal asmara para pejabat publik.
Itu semua, sukses menjadikan Indonesia jadi obyek bulan-bulanan Media dalam maupun luar negeri. Padahal, semua yang diuraikan tadi, patut diduga, merupakan skenario terencana pihak-pihak tertentu. Bagian dari operasi senyap. Yang secara sistematis, bertujuan merongrong kewibawaan dan kedaulatan Indonesia.
Semua tadi bertujuan bikin mental masyarakat letih. Logika akal sehat masyarakat dibuat penat. Kebanggaan dan nasionalisme masyarakat dikubur hidup-hidup. Ujung-ujungnya, menciptakan bibit sikap antipasti, ketidakpercayaan, bahkan perlawanan kepada simbol-simbol Negara. Dan ketika Kekuasaan sudah terdelegitimasi, maka target penyerobotan dan penguasaan sumber-sumber daya, yang menguasai hajat hidup masyarakat, pun, lebih gampang mereka lakukan.
Asymmetric Berkembang Menjadi Asangymetric Warfare
Semua contoh penggorengan isu yang disebutkan tadi, mudah disalah-gunakan menjadi platform. Untuk ditungganggi kelompok berkepentingan tertentu. Yang kemudian menggunakannya untuk memperalat masyarakat awam. Sehingga seolah-olah timbul pergerakan massa akar rumput. Yang (biasanya) diidentikkan dengan kerusuhan dan anarkisme.
Operasi Asymmetric serupa yang digencarkan Amerika, disebut-sebut menjadi kunci penghancuran Uni Soviet, yang menandai berakhirnya era Perang Dingin. Juga dianggap penyebab bangkrutnya ideologi Komunisme secara Global. Tapi istilah Asymmetric War sendiri, justru makin populer, paska terjadinya serangan atas Gedung World Trade Centre dan Markas Angkatan Bersenjata AS, Pentagon, pada 2001.
Dalam sejarah konflik internasional, Perang Irak disebut sebagai jenis Perang Symmetric/Conventional terakhir yang melibatkan personil militer AS. Sejak setelah itu, sejalan pencanangan kampanye perang global anti-terorisme, strategi Asymmetric War makin diposisikan sebagai prioritas utama dalam kebijakan pertahanan dan militer AS.
Dalam perkembangannya, sejalan pergeseran dimensi baru Perang Modern, yang ditandai maraknya Social Media dan serangan cyber antar-negara, berkembang pula yang disebut Assangymmetric Warfare.
Diilhami oleh skandal peretasan jejaring Internet militer oleh Julian Assange, jenis perang Assangymmetric Warfare ini menjadikan makin sulit bagi kalangan awam, membedakan: Mana penyerobotan yang bisa dikategorikan kriminalitas biasa ala hacker (yang bertujuan memeras dan atau berorientasi ekonomi). Mana, yang pelakunya kalangan hackivist (yang melakukan peretasan demi tujuan pemenanganm politik, sabotase, atau spionase). Serta apa bedanya, dengan serangan cyber oleh suatu Negara atas kedaulatan Negara lain.
Beda antara ketiganya tipis. Aksinya pun sama-sama tak kasat mata. Tapi kerugian yang ditimbulkan serangan ini, bisa sangat luarbiasa. Buku The Complexity of Modern Asymmetric Warfare (International and Security Affairs) yang ditulis Max G. Manwaring ini, menarik sebagai perspektif.
Nurani, Nalar dan Logika Akal Sehat, Kuncinya
Hanya dengan mengandalkan peraturan dan perundangan, dan berharap kita bisa mampu menetralisasi ancaman Asymmetric Warfare, memang tak cukup. Yang juga dibutuhkan adalah hati nurani masyarakat yang tetap terjaga. Fikiran yang tetap jernih. Nalar dan logika akal sehat pun musti dijaga tetap tegak. Begitu pun nyali untuk berupaya melawan lupa.
Cara menyikapi asymmetric war dengan tepat, mungkin bisa dimulai dari hal sederhana. Syaratnya, masyarakat harus berupaya tak mudah terpancing iming-iming. Tak mudah dihasut dan diprovokasi dengan hal-hal tak pasti. Bersikap skeptik, saat mengkonsumsi informasi. Artinya, jangan mudah menelan mentah-mentah apa saja yang dikatakan Media atau via social media. Musti berani berkata ‘Tidak’, dan menolak. Ketika ada yang menyuruh-nyuruh berbuat –yang seakan-akan– demi kepentingan Bangsa-Negara, tapi kenyataannya justru berdampak sebaliknya. Waspadalah. Waspadalah. \kris moerwanto
Serangan asimetrik 6 negara besar ke NKRI , waspadai !
Hati-Hati, Inilah 6 Negara Besar Yang Berambisi Ingin Mengambil Alih Indonesia
Pada masa yang akan datang, perang tak hanya dilakukan dengan adu kekuatan militer di medan peperangan, Peperangan di masa depan lebih banyak menggunakan kepala untuk adu strategi kecerdasan diantarnya perang di era modern yang harus diwaspadai oleh Indonesia adalah proxy war, atau perang proksi yang memberi dampak lebih mengerikan dari perang s3nj4ta ap1.
Negara Indonesia sampai saat ini sedang diincar oleh kekuatan negara asing luar negeri, Juga hampir bisa diprediksi jika negara itu mengincar sumber daya alam yang melimpah ruah. Adanya konflik-konflik yang ada di dunia 70% di antaranya disebabkan oleh masalah sumber daya energi seperti minyak bumi, boleh kita lihat Timur Tengah yang kaya energi namun selalu dipenuhi oleh konflik berkepanjangan, nanti masa depan juga konflik serupa bisa saja terjadi kepada indonesia dan mungkin inilah 5 negara otak dibalik itu semua.
Sudah menjadi rahasia umum jika China memiliki hubungan yang kuat dengan Indonesia. Negeri ini banyak sekali melakukan investasi di berbagai bidang yang sangat vital dan utama, Diantaranya adalah pengadaan kereta cepat yang menghubungkan Bandung-Jakarta selain itu dikabarkan maraknya tenaga kerja bahkan pelaku kelas kakap dari negara china ini bisa jadi mengancam kedaulatan bangsa.
Negara Indonesia sampai saat ini sedang diincar oleh kekuatan negara asing luar negeri, Juga hampir bisa diprediksi jika negara itu mengincar sumber daya alam yang melimpah ruah. Adanya konflik-konflik yang ada di dunia 70% di antaranya disebabkan oleh masalah sumber daya energi seperti minyak bumi, boleh kita lihat Timur Tengah yang kaya energi namun selalu dipenuhi oleh konflik berkepanjangan, nanti masa depan juga konflik serupa bisa saja terjadi kepada indonesia dan mungkin inilah 5 negara otak dibalik itu semua.
1. Negara China
Sudah menjadi rahasia umum jika China memiliki hubungan yang kuat dengan Indonesia. Negeri ini banyak sekali melakukan investasi di berbagai bidang yang sangat vital dan utama, Diantaranya adalah pengadaan kereta cepat yang menghubungkan Bandung-Jakarta selain itu dikabarkan maraknya tenaga kerja bahkan pelaku kelas kakap dari negara china ini bisa jadi mengancam kedaulatan bangsa.
2. Negara Australia
Kita mungkin masih ingat kasus penyadapan yang dilakukan oleh Australia kepada Indonesia dulu, seperti keterlibatan mereka dalam membantu memerdekakan timor leste dan sekarang berusaha membantu OPM, peristiwa ini menjadi salah satu bukti jika negeri kanguru itu memiliki ambisi yang cukup banyak untuk menguasai Indonesia kita.
Negara Amerika adalah negara yang banyak sekali melakukan perang proksi atau perang adu domba di dunia, Tidak terhitung lagi berapa banyak uang yang mereka berikan kepada sekutu dan anteknya untuk membantunya melakukan misi adu domba, Negara Amerika memiliki banyak sekali kepentingan di dunia ini, terutama untuk masalah energi dan sumber daya alam. Negara Amerika tidak terlalu banyak memiliki sumber daya alam, dan cara tercepat untuk mendapatkannya adalah dengan merampas milik negara orang.
kita sudah tahu di Indonesia sendiri Amerika sudah banyak mendirikan perusahaan besar yang mengeruk sumber daya alam melimpah ini. diantaranya yaitu Freeport yang mengambil banyak emas di Papua daerah yang sumber daya alamnya yang sangat luar biasa, ini saja membuktikan jika Amerika berambisi ingin menguasai Indonesia kita, bahkan masa depan amerika ingin menguasai seluruhnya dari Indonesia, terbukti dengan dibangunnya pangkalan militer amerika di pulau cocos yang dekat dengan pulau Jawa.
Negara Inggris sudah sejak lama tertarik dengan Indonesia kita, Bahkan sejak zaman kolonial Belanda, Inggris sudah ingin menguasai banyak sektor, terutama sumber daya alam yang melimpah, pada zaman modern seperti ini, negara Inggris mungkin tidak begitu terdengar desas-desusnya, tapi di balik itu, ternyata Inggris masih memata-matai Indonesia kita.
Mereka menempatkan banyak sekali mata-mata di negara Commonwealth seperti Singapura dan malaysia, Di negara itu, Inggris mengumpulkan banyak sekali data untuk menyusun strategi dalam menguasai Indonesia, mungkin Kelak di masa depan, kalau strategi ini sudah sempurna 100 %, Inggris dan para antek akan menguasai Indonesia kita.
Jepang Memang Tidak menguasai sumber daya alam, tapi jepang telah menguasai pasar elektronik dan otomotif, bisa kita lihat dengan banyaknya merek otomotif dari jepang seperti toyota, honda, yamaha dll.
Sama halnya seperti jepang, korea selatan menguasai indonesia di bidang elektronik terbukti dari banyaknya merek smartphone dari korea yang merajai Indonesia. Seperti Samsung.
Itulah 6 Negara Besar yang berambisi ingin menguasai Indonesia, semoga kita selalu berhati-hati dan siap menghadapi ini semua.
3. Negara Amerika Serikat
Negara Amerika adalah negara yang banyak sekali melakukan perang proksi atau perang adu domba di dunia, Tidak terhitung lagi berapa banyak uang yang mereka berikan kepada sekutu dan anteknya untuk membantunya melakukan misi adu domba, Negara Amerika memiliki banyak sekali kepentingan di dunia ini, terutama untuk masalah energi dan sumber daya alam. Negara Amerika tidak terlalu banyak memiliki sumber daya alam, dan cara tercepat untuk mendapatkannya adalah dengan merampas milik negara orang.
kita sudah tahu di Indonesia sendiri Amerika sudah banyak mendirikan perusahaan besar yang mengeruk sumber daya alam melimpah ini. diantaranya yaitu Freeport yang mengambil banyak emas di Papua daerah yang sumber daya alamnya yang sangat luar biasa, ini saja membuktikan jika Amerika berambisi ingin menguasai Indonesia kita, bahkan masa depan amerika ingin menguasai seluruhnya dari Indonesia, terbukti dengan dibangunnya pangkalan militer amerika di pulau cocos yang dekat dengan pulau Jawa.
4. Negara Inggris
Negara Inggris sudah sejak lama tertarik dengan Indonesia kita, Bahkan sejak zaman kolonial Belanda, Inggris sudah ingin menguasai banyak sektor, terutama sumber daya alam yang melimpah, pada zaman modern seperti ini, negara Inggris mungkin tidak begitu terdengar desas-desusnya, tapi di balik itu, ternyata Inggris masih memata-matai Indonesia kita.
Mereka menempatkan banyak sekali mata-mata di negara Commonwealth seperti Singapura dan malaysia, Di negara itu, Inggris mengumpulkan banyak sekali data untuk menyusun strategi dalam menguasai Indonesia, mungkin Kelak di masa depan, kalau strategi ini sudah sempurna 100 %, Inggris dan para antek akan menguasai Indonesia kita.
5. Jepang
Jepang Memang Tidak menguasai sumber daya alam, tapi jepang telah menguasai pasar elektronik dan otomotif, bisa kita lihat dengan banyaknya merek otomotif dari jepang seperti toyota, honda, yamaha dll.
6. Korea Selatan
Sama halnya seperti jepang, korea selatan menguasai indonesia di bidang elektronik terbukti dari banyaknya merek smartphone dari korea yang merajai Indonesia. Seperti Samsung.
Itulah 6 Negara Besar yang berambisi ingin menguasai Indonesia, semoga kita selalu berhati-hati dan siap menghadapi ini semua.
Selasa, 22 Agustus 2017
Serangan Asimetrik Cina > Silent Economic War
Minggu, 20 Agustus 2017
SILENT ECONOMIC WAR
Reklamasi Teluk Jakarta itu kecil, ada garapan cina RRC yang JAUH lebih BESAR :
1. Silent economic war oleh CINA RRC dalam Pemerintahan saat ini, bergerak untuk menguasai Jalur Selatan jawa kecuali DI Yogyakarta....
2. Investor Cina siap gulirkan yuan-nya beberapa tahun depan untuk menguasai dan menjajah jalur selatan Jawa dari Jabar sampai Banyuwangi.
3. Kabupaten/ kota selatan Jawa dikuasai kepala daerah Cina dan Merah supaya mudah menjajah lahan rakyat.
4. 1800 ha hutan di Wonogiri (sebagai pelabuhan swasta pertama di Indonesia) dikuasai bos mebel tangan kanan Jokowi. 1800 ha hutan Wonogiri akan diubah menjadi Kota Mandiri Tiongkok.
5. 1000 ha lahan batik keris solobaru siap sebagai pelabuhan swasta asing (owner tiongkok) pertama di NKRI.
6. Pengalihan isu politik sehingga melupakan penjajahan ekonomi oleh tiongkok yang udah di lakukan beberapa tahun ini.
7. Jalur selatan Jawa kecuali DI Yogyakarta nilainya 1000 x APBN Indonesia yang mampu menjajah Indonesia dari dalam juga sebagai jalur masuk imigran Cina 2018....
8. Ini jawaban kenapa aseng Banjarnegara berani keluarkan 50 miliyar untuk menjabat sebagai Bupati ...karena Cina akan masuk Indonesia melalui jalur selatan Jawa.....
9. Soloraya sebagai pusat koordinasi Beijing Jakarta kecuali Karanganyar....
10. Pacitan, selatan Jawa Timur sedang di bangun power plant dengan proyek Totaly di garab RRC, mulai designing, materisl, mesin , sampai pekerjaan ada 1000 orang. Daya listrik nya 350 MW x 2 unit pembangkit.
11. PILKADA , aseng juga tengah kompak upaya menangkan Pilgub Jatim, Pilbup Bojonegoro dsb yang strategis kaya sumber daya Alam.
APA YANG BISA KITA LAKUKAN menghadapi penghianat BANGSA INDONESIA ini...?
1. Waspadalah para pemilik lahan di Selatan Jawa. JANGAN JUAL LAHAN kalian kepada pihak ASING ASENG, Apalagi dalam luasan yang masif puluhan, ratusan hingga ribuan hektar!!!
2. Kenapa umat islam bagaikan buih di tengah lautan terbawa isu isu politik tanpa bisa beri solusi untuk umat ???
Dedenheryana di 11.21
SILENT ECONOMIC WAR
Reklamasi Teluk Jakarta itu kecil, ada garapan cina RRC yang JAUH lebih BESAR :
1. Silent economic war oleh CINA RRC dalam Pemerintahan saat ini, bergerak untuk menguasai Jalur Selatan jawa kecuali DI Yogyakarta....
2. Investor Cina siap gulirkan yuan-nya beberapa tahun depan untuk menguasai dan menjajah jalur selatan Jawa dari Jabar sampai Banyuwangi.
3. Kabupaten/ kota selatan Jawa dikuasai kepala daerah Cina dan Merah supaya mudah menjajah lahan rakyat.
4. 1800 ha hutan di Wonogiri (sebagai pelabuhan swasta pertama di Indonesia) dikuasai bos mebel tangan kanan Jokowi. 1800 ha hutan Wonogiri akan diubah menjadi Kota Mandiri Tiongkok.
5. 1000 ha lahan batik keris solobaru siap sebagai pelabuhan swasta asing (owner tiongkok) pertama di NKRI.
6. Pengalihan isu politik sehingga melupakan penjajahan ekonomi oleh tiongkok yang udah di lakukan beberapa tahun ini.
7. Jalur selatan Jawa kecuali DI Yogyakarta nilainya 1000 x APBN Indonesia yang mampu menjajah Indonesia dari dalam juga sebagai jalur masuk imigran Cina 2018....
8. Ini jawaban kenapa aseng Banjarnegara berani keluarkan 50 miliyar untuk menjabat sebagai Bupati ...karena Cina akan masuk Indonesia melalui jalur selatan Jawa.....
9. Soloraya sebagai pusat koordinasi Beijing Jakarta kecuali Karanganyar....
10. Pacitan, selatan Jawa Timur sedang di bangun power plant dengan proyek Totaly di garab RRC, mulai designing, materisl, mesin , sampai pekerjaan ada 1000 orang. Daya listrik nya 350 MW x 2 unit pembangkit.
11. PILKADA , aseng juga tengah kompak upaya menangkan Pilgub Jatim, Pilbup Bojonegoro dsb yang strategis kaya sumber daya Alam.
APA YANG BISA KITA LAKUKAN menghadapi penghianat BANGSA INDONESIA ini...?
1. Waspadalah para pemilik lahan di Selatan Jawa. JANGAN JUAL LAHAN kalian kepada pihak ASING ASENG, Apalagi dalam luasan yang masif puluhan, ratusan hingga ribuan hektar!!!
2. Kenapa umat islam bagaikan buih di tengah lautan terbawa isu isu politik tanpa bisa beri solusi untuk umat ???
Dedenheryana di 11.21
Langganan:
Postingan (Atom)

